Dampak Sosial Tawuran Antara Kelompok Pelajar di Jakarta

Mata Kuliah  : Ilmu Sosial Dasar Dasar

Dosen : Muhammad Burhan Amin

Topik Makalah

Dampak Sosial Tawuran Antara Kelompok Pelajar

di Jakarta

 

Kelas  :  2-ID06

Tanggal Penyerahan Makalah : 12 Oktober 2012

Tanggal Upload Makalah  :  12 Oktober 2012

 

 

P E R N Y A T A A N

 

Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam penyusunan makalah ini saya buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain.

Apabila terbukti tidak benar, saya siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

 

 

P e n y u s u n

 

 

N P M Nama Lengkap Tanda Tangan
31411316 Ayu Agriyani

 

 

 

 

 

 

 

Program Sarjana Teknologi Industri

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke khadirat Allah SWT yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, akhirnya penulis bisa menyelesaikan makalah ini. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang baik secara langsung ataupun tidak langsung yang turut membantu proses penulisan makalah ini dari awal hingga ahir.

Adapun tema yang dipenulisan makalah ini adalah “Dampak Sosial Tawuran Antara Kelompok Pelajar di Jakarta”. Seringnya terjadi tawuran antara kelompok pelajar di Jakrta yang mengakibatkan kerugian tidak hanya dibidang materi tapi juga moral tidaklah bisa dianggap enteng. Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk memberikan gambaran dampak sosial terjadinya tawuran tersebut. Dalam menganalisis masalahnya di bagian pembahasan penulis menggunakn metode SWOT “Strength, Weakness, Opportunities, dan Threats”, diharapkan dengan metode tersebut dapat membantu pembaca menganalisa masalah tawuran antara kelompok pelajar ini secara lebih terarah .

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya para mahasiswa/i untuk ikut dapat berperan aktif dalam pentingnya meninjau dampak sosial yang ditimbulkan dari tawuran antara kelompok pelajar di Jakarta. Dalam penyusunan makalah ini penulis sadar bahwa masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Bekasi, 12 Oktober 2012

Ayu agriyani


DAFTAR ISI

 

 

Pernyataan………………………………………………………………………………………………….1
Kata pengantar……………………………………………………………………………………………2
Daftar isi…………………………………………………………………………………………………….3

Bab 1 Pendahuluan

Latar belakang ……………………………………………………………………………………………4
Tujuan……………………………………………………………………………………………………….6
Sasaran………………………………………………………………………………………………………6

Bab 2 Permasalahan

Kekuatan……………………………………………………………………………………………………7
Kelemahan………………………………………………………………………………………………….7
Peluang………………………………………………………………………………………………………8
Tantangan/hambatan……………………………………………………………………………………8

Bab 3 Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan………………………………………………………………………………………………..9
Rekomendasi………………………………………………………………………………………………9

Referensi………………………………………………………………………………………………….10


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Tawuran atau tubir adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Sebab tawuran ada beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang menjurus pada tindakan bentrok. Tawuran merupakan suatu penyimpangan sosial berupa perkelahian. Tawuran ini serigkali menjadi ajang pembuktian bagi para pelajar untuk menunjukkan kekuatan mereka untuk mempertahankan daerah teritorial yang mereka miliki. Adapun hal yang menyebabkan atau menjadi latar belakang dari tawuran inipun beraneka ragam.

Sebagaimana kita saksikan di mass media cetak maupun elektronik, akhir-akhir ini semakin banyak terjadi kasus perkelahian pelajar di sebagian kota besar di Indonesia. Perkelahian pelajar  yang dikenal dengan Tawuran Pelajar pada era sekarang ini mungkin di sebagian masyarakat tertentu bukanlah merupakan suatu pemandangan yang aneh. Tetapi bagi masyarakat kependidikan khususnya dan juga orang tua yang terkait langsung dalam pelaksanaan pendidikan di lapangan setidaknya akan ikut mencemaskan dalam mencermati fenomena-fenomena tawuran pelajar yang cukup meresahkan tersebut. Seperti dikemukakan oleh Mindarti dalam artikelnya yang berjudul Cegah Tawuran dengan “Striptease”: “Istilah pelajar mengingatkan kita pada suatu lembaga yang penuh dengan norma-norma kesusilaan. Namun juga tak bisa dipisahkan denganperkelahian. Hampir setiap hari terdengar kabar tentang keberingasan tawuran antar pelajar di media massa. Bahkan kadang sampai menimbulkan korban jiwa. Sungguh memprihatinkan.”Dikemukakan oleh Raymon Tambunan (2001) dalam artikelnya yang berjudul “Perkelahian Pelajar” bahwa: “di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas.” Sedangkan menurut data Bimas Mabes POLRI antara tahun 1995 – 1999 terjadi sejumlah 1316 kasus tawuran se-Indonesia. Untuk di pulau Jawa terjadi sejumlah sebesar 933 kasus. Untuk di Polda Metro Jaya terjadi sejumlah 810 kasus tawuran pelajar. Sedangkan untuk tawuran di luar pulau Jawa paling banyak terjadi di Polda Sumsel, sebanyak 253 kasus. Dengan tingkat radikalisasi pelajar – yang sudah menjurus kepada kriminalitas – makin kuat (Denny Noviansyah: 2001).  Berdasarkan catatan Kanwil Depdiknas DKI Jakarta, selama tahun ajaran 1999/2000, jumlah pelajar yang terlibat tawuran pelajar tercatat 1.369 orang. Dari jumlah sebanyak itu 26 pelajar tewas, Data dan fakta tersebut menunjukkan bahwa tawuran pelajar merupakan fenomena sosial yang secara signifikan meresahkan masyarakat secara luas. Ada apa gerangan pada diri remaja? Masalah psikologis apa yang terjadi sehingga peristiwanya begitu dahsyat, apakah merupakan gejala deliquensi? Frustasi, gejolak emosi, atau agresi,? Atau masalah psikologis lainnya yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Artinya masalah tersebut perlu segera dicari solusinya yaitu antara lain perlu dilakukan tindakan intervensi psikologis terhadap para remaja di SMU.

Menurut para remaja,kekerasan dianggap sebagai solusi yang palingtepat dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa memikirkan akibat-akibat burukyang akan ditimbulkan tawuran pelajar. Pada saat bersamaan, masyarakathanya bisa menyaksikan kekerasan demi kekerasan terjadi di hadapanmereka.Namun seringkali mencaci perbuatan mereka tanpa berusaha mencarisolusi yang bijak akan permasalahan tersebut.Memojokkan mereka dari sudutpandang negatif permasalahan yang ada,seolah-olah seperti seorang terdakwayang mendapat vonis hukum.Padahal sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwakesalahan itu berasal sepenuhnya dari dalam diri atau faktor internal pelajar sendiri.Masyarakat sering sekali tidak peka terhadap respon yang ditimbulkanremaja,sehingga tidak sedikit remaja yang mengalami semacam gejolak jiwayang berupa agresi guna menunjukkan keberadaan mereka dalam suatulingkungan.Hal itu menunjukkan gejolak jiwa yang menimbulkan stress dan mencaripelampiasan.Hal tersebut seringkali tersalurkan dalam perbuatan negatif,sepertiberkumpul dengan sekelompok preman dan secara tidak langsung menjadibagian dari mereka,karena di kelompok barunya mereka mendapat pengakuanyang selama ini tidak pernah mereka dapat dari dalam keluarga,sekolah,danmasyarakat.Dari situlah dimulainya pembelajaran kekerasan,di lingkungan baruyang tanpa kenal akan aturan,norma,adat,dan kesusilaan.Yang berlaku adaalahhukum anarkisme, premanisme,kriminalisme yang lebih mengedepankan ototdaripada otak.Sungguh ironis yang terjadi di dunia pelajar saat ini,yangseharusnya menuntut ilmu setinggi-tingginya agar bisa berguna bagimasyarakat

1.2       Tujuan

Mengingat pentingnya kita untuk memperhatikan dampak sosial yang timbul dari tawuran ini, maka alangkah baiknya jika kita meninjau tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sbb :

  1. Memberikan pandangan bahwa tawuran tidak adalah perbuatan sia-sia dan merupakan perilaku menyimpang.
  2. Memberikan informasi kepada semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama   memberantas tawuran yang sering terjadi antar pelajar.
  3. Menunjukkan besar kekuatan yang dimiliki suatu kelompok atas daerah teritorialnya diwujudkan dalam perilaku yang positif.

1.3       Sasaran

Adapun sasaran dibuatnya makalah ini ditujukkan kepada :

  1. Para pelajar, khususnya pelajar SMP dan SMA.
  2. Ditunjukan kepada semau lapisan masyarakat.
  3. Khususnya orang tua dan pelajar itu sendiri.
  4. Memperkecil angka tawuran yang terjadi dan menghilangkan budaya tawuran.

 

 

BAB II

PERMASALAHAN

 

Pada bab ini pembahasan akan mempergunakan metode SWOT, dengan penjabaran dari masing-masing komponennya. Adapun penjabarannya sbb :

2.1       Kekuatan

  1. Mendirikan geng

Kelompok pelajar atau sering disebut geng adalah sumber kekuatan kelompok untuk mencari nama dan memperkenalkan bahwa kelompok atau gengnya sangat di kagumi karena bernyali besar dan tiada tanding.

  1. Rasa mendapat julukan jagoan

Dengan emosi yang mudah terhasut dan bisikan dari teman-teman sebaya, hanya utuk mendapatkan julukan jagoan cara kekerasan pun akan di tempuh, rasa keyakinan yang kuat untuk menjadi seseorang yang kuat dan di takuti

  1. Menguji nyali

Tidak merasa laki-laki jika tidak ikut tawuran, prinsip itu lah yang ditanamkan dalam hati kaula muda,ia pun akan merasakan kebanggannya tersendiri jika ikut adil dalam tauran, dan membuktikan dirinya bukanlah seorang yang pengecut.

2.2       Kelemahan

  1. Kekerasan adalah cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah

Emosi dan cara berfikir tidak benar dan menganggap kekeraslah diatas segalanya yang membutakan pikiran untuk menyelesaikan masalah.

  1. Kurangya keharmonisan dalam keluarga

Peran penting keluarga dalam membangun psikologi anak adalah shock terapi yang sangat positif untuk membangun kepribadian anak menjadi positif.

3.       Perkembangan mental yang tidak stabil

Remaja adalah suatu proses untuk menentukan jati diri yang sebenarnya, dikenal sebagai pribadi yang labil dan kurang bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan.

 

2.3       Peluang

  1. Rasa ingin dipandang menjadi yang terkuat

Rasa ingin menjadi yang terkuat manjadikan kelompok yang tidak di padang sebelah mata, dengan cara menguasai daerah teritorial tertentu.

  1. Kurangnya mendapat bimbingan

Bimbingan yang di maksud adalah keikutsertaan lingkungan sekitar maupun lingkungan keluarga yang merupakan faktor penting dalam perkembngan psikologis remaja.

  1. Luput dari perhatian kelurga

Faktor keluarga adalah faktor terpenting, yang dimiliki oleh para remaja untuk menuntun ke jalan atau mengarahkannya kepada hal yang positif, kurangnya kasih sayang dn perhatian dari keluarga membuat remaja tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

2.4       Hambatan

  1. Kurangnya sosialisasi dari sekolah

Bagaimana tawuran antar pelajar dapat terlacak dengan baik, jika dari sekolah tidak ada sosialisasi tentang bahaya tawuran dan akibat yang di timbulkan dari tawuran tersebut akan merugikan banyak orang dirinya, keluarganya, dan orang lain.

  1. Minimnya peraturan yang ketat

Peraturan yang diterapkan disekolah kebanyakan hanya dititik beratkan kepada masalah kedisiplinan dengan konsekuensi pelanggaran hanya sanksi-sanksi kecil saja, hal ini dirasa kurang memberikan efek jera, contohnya kasus pelajar yang memungkinkan anak sekolah sering membawa senjata tajam ke sekolah.

  1. Tidak adanya kerja sama keluarga dengan sekolah

Pengawasan dari sekolah adalah salah satu kunci untuk menghentikan tawuran pelajar yang semakin semarak beberapa tahn belakangan ini, namun tidak cukup sekolah saja, orang tua atau keluarga punharus ikut serta untuk membimbing.

 

 

BAB III

KESIMPULAN & REKOMENDASI

  1. 1. Kesimpulan

Apabila fungsi pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya yang masih dalam usia sekolah kendor atau bahkan tidak mau peduli sama sekali, sudah dapat dipastikan bahwa anak kita akan mencari jalan sesuai seleranya sendiri. Ironinya jalan yang sering diambil oleh anak-anak usia sekolah biasanya hal-hal yang bertentangan dengan norma dan aturan hidup yang baku. Pada akhirnya nasihat orang tua dianggap tidak berguna dan mereka lebih mendengarkan nasihat teman sebayanya. Kita sebagai orang tua harus sadar bahwa anak adalah amanah atau titipan Allah yang harus kita didik, kita bina, kita asuh dan seterusnya agar menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan berguna bagi agamanya, nusa dan bangsa.

  1. 2. Rekomendasi

Pentingnya pengawasan ketat dari pihak keluarga dalam rangka memproteksi kepribadian dari masing-masing anak dalam kaitannya bergaul dan bermasyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan pendidikan agama dan pengarahan langsung jika anak menghadapi suatu masalah. Pihak sekolah kaitannya sebagai badan pendidik sebaiknya melakukan penyuluhan dampak negatif dari tawuran. Sebagai gantinya menjalin hubungan baik terhadap sekolah-sekolah lain untuk menjalin tali persaudaraan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pertandingan persahabatan ataupun pertukaran pelajar.

 

 

REFERENSI

Sander Diki Zulkarnaen, M.Psi

Pengaduan KPAI 2011

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/10/11/19505050/Dua.Pelajar.Korban.Tawuran.di.Pancoran.Dibawa.ke.RS

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/09/26/160334/Lagi-Siswa-Jakarta-Tewas-Akibat-Tawuran/6

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195412071981121-AHMAD_NAWAWI/Intervensi_Sosial_Tawuran_Pelajar.pdf

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>